Mengapa? #linimassa2

Sudah menonton film dokumenter Linimassa2? Sebuah film hasil kolaborasi kerja sama antara ITC Watch dan Watchdoc beserta sponsor-sponsor lainnya yang tidak dapat saya tuliskan (maklum ya). Film ini mengisahkan musuh terbesar dari sebuah kata, media, yaitu orang-orang yang berada dilingkup media itu sendiri. Film ini menjabarkan pilihan apakah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi khususnya internet, akan menjadi teman atau malah sebaliknya menjadi musuh dalam keseharian kita.

Saya tidak akan menceritakan apa yang serap dari film tersebut. Namun, saya akan lebih membagikan pengalaman saya ketika menonton film tersebut dari berbagai kesempatan yang saya lalui ketika menonton film itu dari berbagai latar belakang penikmatnya.

Sama seperti kota lainnya, pemutaran Linimassa2 diputar serentak di beberapa titik dan di sini (Samarinda) pemutaran perdana film dokumenter ini dilakukan di dunia titik, pertama di SMKTI Airlangga dan titik kedua diselenggrakan di Zuppa-Zuppa Cafe. Sementara saya sendiri ikut menonton di lokasi kedua bersama teman-teman dari lingkup komunitas.

Suasana menonton saat itu begitu hikmat. Kami dari berbagai latar belakang pendidikan dan usia seolah terbius dengan deretan frame yang menyajikan deretan pesan pula. Terbesit tawa. Namun, semua itu bagai wujud kagum, ekspresi wow yang tidak diungkapkan dengan kata-kata.

Namun, semua itu saya tanyakan ulang ketika saya bisa berbaur menyaksikan kembali film tersebut dengan anak-anak muda usia sekolah menengah atas sebagai audience-nya. Saya cukup terpengarah, kaget, saya bertanya di mana unsur dari film ini yang bisa dijadikan lelucon?

Kagum sekali saya ketika di film ini tak hanya mengisahkan dua mata pisau penggunaan internet sebagai pemecah celah komunikasi pada media. Ada unsur budaya, ada pula gaya hidup sederhana masyarakat yang tetap bersahaja untuk dikisahkan pada dunia. Hal-hal inilah yang seharus senantiasa kita jaga agar masyarakat bisa berdamai dengan majunya teknologi dan arip-nya hidup berbudaya.

Ekspresi memang bebas diungkap. Namun, tidak dengan tawa yang melepaskan kode-kode etika yang menggambarkan tidak melekatnya indahnya hidup dalam budaya dibawah naungan tuntunan agama.

Inilah yang saya rasakan ketika film dokumenter ini ikut saya saksikan diputar dalam dua kalangan. Inilah kode bagi kita semua yang peduli untuk secara perlahan, sedikit demi sedikit terus menyuplai benih-benih bersahajanya hidup dan berkehidupan.

Iklan

Posted on 11/07/2012, in LiFE, Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

bayufwiranda

motto: jawablah setiap pertanyaan dengan cepat, singkat, dan tanpa mikir

NetTrain Informatika

It's All About Learning

Discover

A daily selection of the best content published on WordPress, collected for you by humans who love to read.

JASA PERCETAKAN MURAH

Percetakan, Komputer, Desain Grafis, Foto Copy, ATK, Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Jarakada

Never been jara enough

Akademi Berbagi Bekasi

Berbagi Bikin Happy

nurhasanahdwilestaridotcom

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

Yogi Yaspranika

ayo sukses berjamaah

%d blogger menyukai ini: