Refleksi Ramadan

Ramadan, satu bulan dimana kita diajak untuk berlatih oleh Tuhan semesta alam kita, Allah SWT. Pada bulan ini kita tidak hanya dilatih untuk menahan dahaga, lapar, dan nafsu kita. Namun, juga diajak untuk berlatih makin disiplin agar kita bisa meniti hidup sebelas bulan ke depan menjadi pribadi yang telah memiliki nilai lebih dari sebelas bulan yang telah dilalui sebelumnya.

Inilah Ramadan. Bulan spesial dimana saat kita sedang tidur pun akan dinilai ibadah oleh Allah SWT. Bulan yang memberikan kompetisi (secara tidak langsung) bagi kita untuk mampu meraih bonus yang tidak ditawarkan di bulan-bulan yang lain. Ramadan membuat kita kembali untuk mengatur ulang starter poin menuju pribadi yang gagah setelah Ramadan dilalui selama sebulan penuh.

Siklus Ramadan seharusnya mampu dicerminkan dalam ekosistem pendidikan. Sebagai bulan yang bisa mempengaruhi banyak orang untuk merubah pola hidupnya, untuk berlatih menahan ego dan nafsunya. Ramadan diakhiri dengan jejak sikap yang tertinggal di pribadi-pribadi yang ikhlas menjalankannya.

Begitu pun pendidikan. Pada ekosistemnya, tidak ada rule dimana pelaku-pelaku pemegang kepentingan (baca guru dan another stakeholder) harus selamanya memberi mencurahkan pengetahuan. Ekosistem pendidikan telah beradaptasi dan terus akan beradaptasi, mempertahankan sistem-sistem terbaik dan memiliki feedback mencerdaskan dari beragam lini-lah yang akan berperan kini juga nanti.

Masih jelas saya mengingat beberapa kata-kata yang disampaikan oleh Bapak Anies Baswedan, saat Beliau menghadiri undangan TEDx di Jakarta menyampaikan apa itu sebuah kegiatan berkesinambungan, bernama Indonesia Mengajar. (Walau saya hanya melihat dari video yang diunggah di portal video terbesar http://www.youtube.com) Kata-kata itu sampai sekarang melekat di ingatan saya; world class competences dan grass root understanding.

Ya ekosistem pendidikan, harusnya memang dikeroyok oleh orang-orang (guru dan pemangku kepentingan lainnya) yang memiliki semangat, tahan banting, terus berinovasi hingga memiliki kompetensi berkelas dunia untuk menggerakkan pendidikan di Indonesia. Mereka pun, termasuk saya seharusnya (yang masih tidak professional dalam berbagai lini pendidikan) juga harus bisa menjadi orang-orang yang setimpal bertindak dari bawah, memahami permasalahan yang banyak ditemui dari masyarakat paling bawah.

Ramadan harus direfleksikan dengan semangat dan tindakan untuk terus mengevaluasi dan menciptakan ekosistem pendidikan Indonesia yang semakin matang. Ramadan hadir setiap tahunnya yang berujung dengan rindu dengan Ramadan yang hadir tahun depan. Pendidikan pun demikian, butuh passion untuk benar terjun peduli memberi dan membagikan bekal hidup bagi generasi penerus dari beragam lini, dimulai dengan setitik lingkup ekosistem lain yang dinamakan keluarga.

Iklan

Posted on 08/13/2012, in Edukasi, Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

bayufwiranda

motto: jawablah setiap pertanyaan dengan cepat, singkat, dan tanpa mikir

NetTrain Informatika

It's All About Learning

Discover

A daily selection of the best content published on WordPress, collected for you by humans who love to read.

JASA PERCETAKAN MURAH

Percetakan, Komputer, Desain Grafis, Foto Copy, ATK, Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Jarakada

Never been jara enough

Akademi Berbagi Bekasi

Berbagi Bikin Happy

nurhasanahdwilestaridotcom

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

Yogi Yaspranika

ayo sukses berjamaah

%d blogger menyukai ini: