Berawal dari edukasi untuk edukasi

Lelah itu pasti ada, pasti hinggap di setiap insani yang selalu berteman dengan beragam peristiwa. Sekecil apapun pasti terasa, hingga ada-ada saja yang akan mencengangkan dunia beserta isinya. Tindakan-tindakan yang terjadi karena tindakan dan keputusan hari kemarin jua hulu-nya.
Setiap aktivitas pasti ada dampaknya, dimana semua akan mempengaruhi jiwa. Walau berat, selama diri masih mempercayakan semua kepada-NYA, akan ada saja jalan tuk temukan nikmatnya dunia. Nikmat yang terasa, namun lebih banyak tak terasa, hingga tak ayal, syukur terabaikan tuk di apresiasikan pada-NYA.
Edukasi tak dapat dipandang sebelah mata, ada sebuah arti kata perjuangan yang akan dibanggakan dalam “hati” ketika semua (walau tak dapat mencapai target utama) telah dilalui dan peserta edukasi pun meraihnya dengan senyuman. Senyum yang berhulu di hatinya, senyum ketika mereka berkata “Dunia kini ku akan mengarungi mu di bawah bimbingan Pencipta ku”.
Edukasi adalah wahana yang akan membuat jiwa sedih, terpana, tenggelam dalam kelam, penuh semangat, tersenyum, tertawa, bangga, dan perasaan lainnya yang akan muncul secara tiba-tiba dalam “hati”, penyeimbang otak yang terus-menerus bekerja. Edukasi adalah segala hidup akan dimulai ketika manusia membuka matanya ketika baru saja terlahir di dunia.
Sabtu lalu, 15 Nopember ’08. Semua berawal dari ucapan ringan bibir manusia. Ucapan yang mendapat apresiasi dari beberapa jiwa. Hingga semua terasa begitu hikmad, nikmat, tak melelahkan. Namun sangat menyenangkan. Kegiatan dengan memanfaatkan pemberian organ tubuh kita oleh-NYA, harusnya tak akan terlupa begitu saja di jiwa.
Tak ada perasaan yang menganggap mereka adalah peserta edukasi biasa, tak ada perasaan yang mengharuskan untuk menjauhi mereka. Semua berjalan dengan kendali dari-NYA dan ucap syukur harusnya tak lenyap begitu saja.
Dinamika edukasi, memang dapat menciptakan penat di jiwa. Penat yang biasanya diawali dari perasaan tidak nyaman, gerutu, hingga semua gampang diabaikan begitu saja. Dinamika edukasi pula yang seharusnya dilalui dengan beragam cara, cara yang tak mengharuskan ada gerutu di balik bibir, cara yang membuai semua dengan belai sayang, tanpa ada noda fisik yang tersisa. Cara yang harusnya mengajarkan “Sesuatu tak dapat dinilai dari segala standar yang ada. Namun, biarkan hati yang mencernanya tuk mengukir prestasi dan manfaat nantinya”.
Penat pada dunia edukasi, akhirnya ditindaklanjuti dengan lingkungan edukasi itu sendiri. Berjalan kaki bersama peserta edukasi untuk menggali lebih dalam lagi semangat dan arti dari edukasi itu sendiri dilalui. Tanpa memaksa, hanya melakukannya dengan mereka yang ingin melakukannya dari hati.
Menghabiskan waktu berjam-jam, semua tak berarti keluhan. Semua indah karena tawa canda silih berganti terdengar di balik langkah-langkah kaki yang meninggalkan jejak perlahan namun pasti. Tak banyak pula yang mengikuti jalan santai bersama pagi hari itu. Hanya lima peserta edukasi dan jiwa ini, kami melangkahkan kaki untuk mencoba mencapai taget perjalanan pagi itu.
Mereka memang peserta edukasi yang berpikir dari berbagai sisi. Mereka hadir dengan beragam inspirasi. Mereka menguraikan arti edukasi dalam kondisi yang tertekan, juga edukasi yang nyaman tuk dilalui.
Walau perjalanan pagi itu terasa cukup jauh, hingga lebih kurang dua jam yang kami butuhkan untuk mencapai titik tujuan dan kembali lagi menuju SMK Negeri 7 Samarinda yang menjadi titik memulai perjalanan. Semuanya indah dilakukan. Alam pun seolah membantu kami untuk tetap merasa nyaman, dimulai dari hembusan angin pagi sungai Mahakam, terik mentari yang menghangatkan. Riak air sungai Mahakam yang nyaman tuk dipandang. Semua terasa sempurna di baik semua keterbatasan.
Beragam tindakan pun menjadi pelepas penat. Relaksasi dilalui dengan beragam ekspresi diri. Semua beban edukasi pun seolah tak ada lagi, semua mampu dihadapi dengan kemampuan diri yang telah mau mencoba tuk mencapai tujuan jalan santai pagi itu. beragam rasa pun terpatri; prihatin, kagum, dan bangga.
Jalan santai bersama jua mampu menjadi lahan tambahan untuk mengkaji lebih dalam lagi makna edukasi. Makna untuk berbagi, untuk memberi, untuk menyemangati, untuk bangkit bersama menyambut tantangan dunia. Kegiatan sederhana yang berarti untuk tubuh kita jua untuk bercengkrama bersama mereka, juga untuk menikmati “alam semula jadi” yang 4LLi SWT beri untuk dilindungi.
Tak ada keinginan dan tujuan lain, selain melihat mereka tertawa, melihat mereka tersenyum bangga, melihat mereka siap tuk hadapi tantangan dunia, selain belajar dari mereka akan potensi diri dan segala nikmat yang 4LLi SWT sajikan tuk kita. Semoga semua mampu berbuah nikmat untuk dicerna dalam hidup dimana kasih sayang dan edukasi menjadi hulu dari semuanya.

visit — http://ndrakomunikasi.multiply.com/photos/album/14/Pergi_sejenak_dari_hiruk-pikuk_edukasi_di_sekulah — untuk melihat jeprat-jepret kegiatan ini.

Iklan

Posted on 11/21/2008, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

bayufwiranda

motto: jawablah setiap pertanyaan dengan cepat, singkat, dan tanpa mikir

NetTrain Informatika

It's All About Learning

Discover

A daily selection of the best content published on WordPress, collected for you by humans who love to read.

JASA PERCETAKAN MURAH

Percetakan, Komputer, Desain Grafis, Foto Copy, ATK, Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Jarakada

Never been jara enough

Akademi Berbagi Bekasi

Berbagi Bikin Happy

nurhasanahdwilestaridotcom

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

Yogi Yaspranika

ayo sukses berjamaah

%d blogger menyukai ini: